Sabtu, 04 Februari 2012

SRI RATU

Sri Ratu adalah salah satu mol yang ada dikediri.lemayan besar dan cukup bagus bagi penduduk disekitar kediri dan pare.Sri Ratu adalah tempat tujuan utama saya untuk mengurangi rasa stress saya.sebelum pergi kekediri saya dan mom indah, Mr diky (suami mom indah) and izah pergi kerumah orang tua Mr.diky untuk menemui ibunya Mr.diky.Mr.diky sekarang hanya mempunyai seorang ibu dan bapaknya sudah meninggal sejak tahun 1995.

woww waktu itu umur saya masih sekitar 4 tahun loh.disana yang saya lakukan adalah get along with Mr.diky’s mother and I got something new experience from Mr.diky’s mother.banyak sekali pengalaman yang beliau ceritakan kepada saya.ketika beliau masih muda and ketika beliau mengalam sakit dan dioprasi.saya turut sedih juga mendengarnya tapi saya mencoba menghilangkan rasa sedih itu dengan membuat sebuah lelucon dan beliau sangat menyukai lelucon saya.saya hanya berpikir what done is done.so it’s time to open the new page.

Ada sesuatu pertanyaan yang diberikan kepada saya dari beliau “what was your biggest dream in your life?you wanted to be a teacher of english?or something else?” and I just answared “ I wanted to be entrepreneur number 1 in the world and to be a teacher of english is not my dream.” It doesn’t meant I dislike to be a teacher..a big wrong.saya suka menshare kepada siapa saja.baik itu financial, knowledge and even smile.beliau hanya berkata “ ibu doakan kamu besok akan menjadi pengusaha termuda dan terkaya dan ibu sangat bangga sekali ketika kamu menjadi orang besar..kamu menyebut nama ibu.” I just said “ amiinn ( dengan rasa bangga dihati ). Salah satu yang saya suka dari beliau adalah beliau jago sekali memainkan alat musik seperti piano walaupun usianya sudah lanjut atau diatas 60 tahun..awesome..:).

ketika itu hujan turun membuat perut saya berbunyi yang ga karuan dan saya, mom indah and Mr.diky berpamitan ke ibu untuk pergi ke Sri Ratu.langsung saja kita menuju mobil tempur milik Mr.diky ( bisa dibilang itu mobil sejarah hehe) and langsung meluncur ke Sri Ratu.Setiba disana kita langsung menuju restoran dan kita bertemu Mr.latif.after that kita memesan makanan yang kita suka masing-masing and I just said “ mom, Mr.diky, Mr.latif what would you like to have??all the food..it’s on me.my treat “ dan mom indah hanya bilang “ it’s ok (sambil tersenyum)“ tanpa panjang lebar..kita semua memesan mie hot plate sea food, bebek kremes, ice tea, kangkung, ikan , nasi goreng chinese, cap cay chinese, dan masih banyak lagi.biasanya mom indah yang selalu teraktir saya dan saya pikir ini waktunya saya yang mentraktir..mom indah dan Mr.diky sangat baik kepada saya.kemaren saja saya dibelikan long sleeve shirt untuk ngajar di daffodils.hem..sampai segitu baiknya.let’s back to the topic..setelah makan-makan kita bersama-sama menuju game zone dengan perut kekenyangan..dan disana kita mencoba berbagai game yang sangat menyenangkan.tertawa bersama-sama sampai-sampai Mr.latif burst into laughter.waktu pun menunjukan pukul at 09.00 pm dan kita memutuskan untuk pulang.

ini lah cerita hari ini yang bisa saya tumpahkan.saya lagi belajar untuk menulis.apapun hasilnya hari ini..above all I dare to step.hehe

Jumat, 03 Februari 2012

Bertemu Dan Berpisah



tiba waktunya kita berpisah

tak akan kulupa kau berikan kasih sayangmu kepadaku, kepadaku
ku akan pergi jauh dan tak mungkin kembali
untuk selama-lamanya

tiba waktunya kita berpisah
tak akan kulupa kisah cintaku bersamamu masa lalu sampai kini
bertemu dan berpisah itu akan terjadi
di dalam dunia ini

KULIAH JALANAN


Di rak buku toko itu, Bacul dan Dzul Ndablek hanya bisa memandangi kavernya. Terlihat buku itu tebal, terbungkus plastik, dan harganya untuk ukuran kami cukup mahal. Kami selalu kecewa setelah keluar dari toko buku itu. Saat ini, mereka memang bukan seorang Mahasiswa, biarpun begitu mereka tidak pernah menjadikan keadaan sebagai penghalang untuk belajar. Kapanpun, dimanapun, mereka bisa menjadi guru untuk diri mereka dan bukan hanya mereka tetapi setiap siapapun yang mereka jumpai bisa menjadi guru.

Dalam sebuah perjalanan menuju masjid, tampak mereka berdua saling bertukar koran yang dibelinya. Memperoleh informasi sudah sama kedudukannya seperti mandi, makan nasi atau kerokan. Orang makin maju, tidak mungkin berjalan kebelakang. Dulu orang cukup nguping, rerasan sana sini.

Budaya rerasan itu lantas dilembagakan, dicanggihkan, dalam maksud yang positif. Koran jual berita seperti menjual mendoan. Maka semoga berita yang dijual koran selalu makanan ‘objektif’, sehat bergizi, gurih, tidak dilatarbelakangi oleh subjektivitas kelompok ini itu yang bisa bikin mencret. Meskipun demikian, orang toh sudah terbiasa jajan diwarung yang makananya tidak terlindungi dari debu dan lalat.

Dari belakang muncul lah amal dan poltak samijo yang mendahului mereka untuk sama-sama berjalan ke masjid. Amal menyatakan bahwa dia paling suka berita kriminal, humor dan iklan. Yang paling tidak disukainya adalah kutipan pidato, pejabat ini bilang begini, sementara sarjana itu bilang begitu.
Bahasanya canggih, istilah-istilahnya ningrat. Seperti roti yang turun dari planet, sukar dikunyah, dan tak jelas rasanya.
Apa tho Kapitalisme itu? amal meneyeletuk dengan susunan bunyi yang terbata.
Oo, itu bangsa Sosialisme atau apa itu. kata poltak samijo.
Omong-omong Poltak Samijo dan Amal menjadi mandek. Kemudian Bacul coba memancing keadaan “Siapa ini yang mau menjelaskan?,”kata bacul.
Dzul Ndablek, merasa punya kesempatan untuk menjadi dosen. Maklumlah Dzul ini mustahil jadi dosen. Dzul bilang, kapitalisme ialah orang yang mengatakan: “Punyaku ya punyaku, punyamu ya punyaku..”

Ada prinsip Ekonomi: dengan modal serendah-rendahnya, kita peroleh hasil setinggi-tingginya. Itu sebuah sikap mental yang mimpi idealnya adalah: tanpa modal, kita peroleh semua. Maka adanya monopoli, tatanan sentral-periferi, jurang kaya miskin, akan berlangsung dengan sendirinya meskipun diselenggarakan aturan main untk mengontrolnya.

Sosialisme itu sebaliknya:”Punyaku itu punyamu, punyamu itu punyaku.” Meskipun demikian banyak di negeri sosialis, rakyat bilang,”punyaku punyamu, punyamu punyamu”. Sementara para penguasa berbisik-bisik dalam hatinya, “Punyamu punyaku, punyaku punyaku”.
Lha lantas ada suara Bacul bilang: Tak ada punyamu, tak ada punyaku. Yang punya hanya Tuhan. Milik itu hanya wewenang Tuhan. Ku itu tak ada kecuali Tuhan. Ku lainnya itu pinjaman. Tapi siapa percaya kata-kata ini?

“Ada,” kata Dzul Ndablek. Hati kecil semua manusia. Hati kecil kita. Tetapi hidup kita tidak mengandung keberanian untuk meyakini dan melaksanakannya. Maklumlah, lha Wong kita.

(by: karyadi bacuel)

speak first periode 1