Langit kelam membentang di depan mata
Ketika di bus transjakarta saya teringat seorang sahabat yaitu Agus Suhendi yang akan pergi bertolak meninggalkan pulau jawa menuju Riau. Memang jaraknya tidak terlalu jauh kalau ditempuh dengan pesawat terbang, tapi untuk ukuran saya, Fadil Setyanegara, Andri Setiawan, Zulkarnain menjadi sangat jauh karena terbiasa prihatin dulu bung baru prihatin kemudian, jalan kaki dulu bung, baru setelah itu beli pesawat dan selanjutnya kita wakafkan untuk kepentingan umum. Karena itu jangan heran diantara kami berenam tidak ada yang memiliki pacar bernama CAMELIA, kendaraaan andalannya aja Jalan Kaki. Insya Allah tradisi jalan kaki tidak akan ditinggalkan sampai nanti..
Momentum kepergiannya esok hari, saya jadikan ritual khusus untuk berkenduri cinta bersama. Di perjalanan segera saya kirim pesan singkat,”Gus kita ke citas yuk?”. CITAS (Citra Rasa Nusantara) warung penjual makanan yang kami juluki warung gua hira. Warung itu memberi kenangan tersendiri untuk kami ketika merasakan pendidikan di SMA. Kami sering memberi makanan dengan uang yang kami kumpulkan sebesar 1000 rupiah dari enam orang(sepertinya kelebihan deh, empat orang yang benar). Uang tersebut selanjutnya kami tukarkan dengan sebungkus makanan di CITAS. Jadilah makanan tersebut sebagai santapan di siang atau sore hari setelah memacu otak jenius melebihi kecepatan cahaya yang menguras kalori. Satu bungkus makanan untuk rakyat banyak. Ooooh inilah salah satu sikap kesuksesan yang kami lakukan. Satu makanan untuk dua orang, dua makanan untuk empat orang, dst. CAMELIA zaman sekarang mah maunya makan Hoka-Hoki Bento (itupun kalau hoki mendapatkan pacar tajir), mana mau masakan warteg. Jadi jangan heran lagi kalau diantara kami tidak ada pacar yang bernama CAMELIA, kalau isteri yang berperilaku Wanita Langit Insya Allah akan kami miliki setelah meminta izin kepada Allah yang memilikinya.
Ternyata yang bisa menghadiri ritual ini hanya saya, Fadil, dan Agus. Teman kami yang lain masih ada di kampung yang luas halamannya tidak saya ketahui dan juga masih ada yang sudah mulai menyibukan diri.
Fadil dan Agus sudah sampai di CITAS. Mereka berdua sudah menunggu kedatangan saya. Maaf saya terlambat tolong dimaafkan bus yang saya tumpangi berjalan tidak sesuai keinginan saya. Jadi agak lama sampai rumah.
Sampailah saya di CITAS dan ternyata senyata-nyatanya saya melihat warung CITAS sudah tutup. Saya dan Fadil tidak kehilangan akal, segera kita susun rencana untuk mengantarkan teman saya ini untuk bertemu orang yang katanya ia merasa bersalah kepadanya, mungkin sajak ini bisa mewakilinya:
Perasaan bersalah tiba-tiba berubah
menjadi cinta yang tergesa hendak disampaikan
Dan ungkapan maaf
menjelma menjadi kekasih paling cantik
yang tak jemu kita rindukan.
Begitulah gambarannya, selanjutnya saya berikan saran untuk mendatangi rumah orang tersebut dan berikan setangkai mawar putih untuk persaudaraan. Fadil pun mendadak menjadi motivator ulung kepada Agus untuk tidak ragu-ragu melakukannya. Akhirnya Agus mengikuti arus kekuatan kami berdua. Maaf Gus tidak ada rencana khusus dari kami untuk ini semua....hehehehe
Kami bertiga bergegas menuju toko bunga. Sejujurnya saya tidak tahu letak toko bunga. Kami berjalan dengan arah dan tujuan yang masih samar-samar. Karena tujuan kami malam itu untuk kebaikan, maka kendaraan kami ditunjuki jalan yang benar yaitu berhenti tanpa sengaja tepat di depan toko bunga.
Bunga mawar putih kini ada digenggaman Agus. Kami bertiga bergerak menuju rumah orang yang disebut Suadara Agus. Karena ada kendala yang tidak bisa saya sebutkan disini, maka upacara penyerahan bunga dibatalkan sementara waktu, padahal Saudara Agus sudah berlatih untuk bercakap-cakap dan sudah melatih diksi yang akan disuarakan.
Sebenarnya mawar putih yang diberi saudara Agus adalah hasil dari manajemen kami berdua, Saya dan Fadil. Manajemen itu bukan berarti memiliki uang kemudian dapat membeli bunga. Manajemen adalah tidak punya uang tapi sanggup membelikan bunga. Tidak sia-sia perjalanan saya,Fadil Setyanegara, dan Andri Yusuf Setiawan ke Yogyakarta untuk menguji ilmu manajemen dalam rangka mendapatkan gelar Ph.G(Pengusaha Gila).
Bunga itu memang seharusnya untuk suadara Agus sebagai kenduri cinta kita semua sebagai wujud indahnya kemesraan bersama. Itu persembahan kami untuk anda Gus, Mawar Putih dari kami, pakai uangmu dan untukmu. Simpan baik-baik satu waktu akan berguna.
Sebelum kami pulang kita bernarsis duka pada malam jumat (16 Agustus 2010). Untuk bernarsis duka kami membutuhkan satu orang untuk mengabadikan malam kenduri cinta kita bersama. Segera kami menuju rumah Zulkarnain, kata orang sih Sahabat saya yang satu ini mirip dengan Ridho Roma Biskuit Kelapa, itu juga kata dia-kata orang. Mirip apapun dan siapapun tidak penting yang penting kami dapat memanusiakan manusia dan menghadirkan Cinta Rasulullah dan Allah dalam kebersamaan.
Selesai sudah malam kemesraan kita. Kami akhirnya berjalan beriringan dan selanjutnya berjalan menuju ke rumah masing-masing.
Dan detik- detik perpisahan saya dengan saudara Agus, spontan saya menyiapkan hadiah. Saya periksa saku-saku baju dan celana. Sebuah pulpen yang saya bawa dari rumah tanpa sengaja akhirnya menjadi hadiah sederhana. Segera saya berikan kepadanya sambil memacu kendaraan menuju kendaraan yang digunakan saudara Agus. Tepat di perempatan lampu merah Srengseng, saya ulurkan tangan saya untuk memberikan pulpen tersebut.
Hadiah sederhana itu tentunya memiliki filosofi tersendiri buat saya dan anda Saudara Agus. Ingatan kita memiliki batas yang suatu saat akan luntur tapi goresan ingatan di atas kertas akan menjadi ingatan untuk generasi selanjutnya.
Karyadi Djayadrata
Selasa, 07 Juni 2011
engkau sahabat saya
senjakala telah mulai turun
ribuan cerita yang kau tulis telah saya baca
dulu kita sering berjalan seiring
berdiskusi panjang sambil menghitung
jejak langkah kita yang tertinggal
saya tetap percaya engkau sahabat saya
(kyd)
ribuan cerita yang kau tulis telah saya baca
dulu kita sering berjalan seiring
berdiskusi panjang sambil menghitung
jejak langkah kita yang tertinggal
saya tetap percaya engkau sahabat saya
(kyd)
Kamis, 02 Juni 2011
hem
love is always patient and good.love is never jealous.love is never arrogant.love is never selfish.it's not offended, love needs happiness in the true.love is always forgive and love like the wind.I can't see it but I can feel it..
Kau Melihat Dunia Hanya Sebatas Pandanganmu
Ingatkan engkau ketika engkau mulai belajar berjalan?
Ketika engkau mulai melangkahkan kaki setapak demi setapak?
Ingatkah engkau, ketika engkau pertama kali memandang segala sesuatu dari kakimu yang mungil?
Segala sesuatunya terasa begitu jauh dan tak terjangkau oleh tangan-tangan mungilmu.
Kaki kursi maupun kaki bangku seakan-akan tongkat untuk menahanmu berdiri.
Dibawah meja makan merupakan tempat favoritmu, meja makan cukup untuk menudungi kepalamu.
Kau menengadah ketas dan melihat lampu-lampu indah, kau takjub dan kagum melihatnya, lalu kau mengulurkan tanganmu untuk menjangkaunya.
Tapi kau tak sanggup!!
Segala sesuatu nampak begitu jauh dan tak terjangkau bagi tangan dan kaki mungilmu yang berusaha untuk menggapainya.
Lalu kau mendengar sebuah suara memanggilmu.
Kau mencari berkeliling dengan tertatih-tatih, tapi kau tidak menemukannya.
Suara itu memanggilmu lagi..
Kau semakin penasaran dan menjejakkan kakimu ke lantai cepat-cepat untuk mencari sumber suara itu. Tangan dan kaki kecilmu berusaha menjaga keseimbangan ketika kau berlari untuk menemukan siapa yang memanggilmu.
Suara yang begitu lembut, suara yang kau tahu berasal dari orang yang mengasihimu. Suara yang sama terdengar memangilmu lagi, kau memandang sekelilingmu sekali lagi..tapi kau tetap tidak menemukan suara itu. Yang kau lihat disekelilingmu hanyalah mainan mobil-mobilanmu yang berserakan, 4 buah kaki kursi, sebuah balon, beberapa buah, krayon dan tempat favoritmu, dibawah meja makan.
Kau berlari dan melongok ke bawah meja, kalau-kalau sumber suara itu berasal dari sana. Dan kau mendengar suara itu sekali lagi, disertai dengan tawa lembut.
"Kemana kau mencari anakku? Lihat aku diatasmu."
Kau pun mendongakkan kepalamu dan melihat sumber suara itu. Ibumu berdiri di hadapanmu dan tersenyum melihatmu. Kau pun tersenyum dan berpikir, "Hei lihat..aku dapat menemukanmu."
Lalu kau mengulurkan tangan mungilmu dan mencoba menggapainya. Mencoba menciumnya, mencoba memegang tangannya. Namun, aduh..tanganmu tak dapat menggapainya.
Tiba-tiba ibumu terasa begitu jauh darimu. Ia menjulang tinggi dan tak dapat kau raih. Kau merasa kecewa dan menangis. Kau menginginkan ibumu, tapi kau tak dapat mencapainya..Ibu terasa begitu jauh.
Dan tiba-tiba, kau merasa tubuhmu terangkat. Ada sepasang tangan yang memegang pinggang kecilmu. Kau melihat ibumu tersenyum dan berkata, "Nah, aku bisa menemukanmu." Kau menggapai dengan tanganmu dan, Hei lihat..sorakmu..Kau bisa memegang pipinya. Ia tertawa ketika tangan-tanganmu memegang pipinya. Bahkan ketika salah satu tanganmu menarik rambutnya. Ia tertawa dan menarik kau mendekat padanya dan mencium pipimu. Akhirnya kau bisa meraih ibumu. Oh..salah.. Akhirnya Ibumu bisa meraihmu dan mendekapmu.
Betapa sering kita merasa Tuhan jauh dan tidak terjangkau bagi tangan-tangan kita. Atau mungkin kita ingin sekali menjangkauNya tapi upss..tanganmu kurang panjang. Kaki-kakimu kurang tinggi untuk dapt menyentuhNya.
Pernahkah kita merasa Tuhan jauh dari kita, kita berpikir dan membayangkan diri kita seperti anak kecil dengan pandangan yang serba terbatas sehingga kita tidak bisa melihat bahwa sesungguhnya kita berada dibawah kakiNya. Bahkan kita ada kurang dari 10cm dari hadapanNya. Pandangan kita sangat terbatas. Tidak seperti PandangnNya. PandanganNya begitu dekat kepada kita, sehingga tangan-tanganNya bisa menjangkau dan menarik kita mendekat kepadaNya.
BagiNya kita begitu dekat, sehingga bunyi nafas kita sekalipun terdengar di telingaNya. Ketika Ia menundukkan kepalaNya, ada kita di dekat kakiNya. Ia tersenyum dan tertawa ketika melihatmu mencari-cariNya, padahal kau ada di dekat kakiNya. Dan akhirnya, ia mengangkat pinggangmu, membawamu naik untuk dapat menciummu. Untuk membiarkanmu memegang pipiNya, untuk membiarkanmu menarik rambutNya. Ia ada dekat sekali denganmu. Yang perlu kau lakukan hanyalah menengadahkan kepalamu, dan Ia akan mengangkatmu ke atas. Ia akan membungkuk dan mengulurkan tanganNya.
Jadi, jika kau merasa begitu jauh dariNya..Ingat kau ada di dekat kakiNya...
by Pondok Renungan
Ketika engkau mulai melangkahkan kaki setapak demi setapak?
Ingatkah engkau, ketika engkau pertama kali memandang segala sesuatu dari kakimu yang mungil?
Segala sesuatunya terasa begitu jauh dan tak terjangkau oleh tangan-tangan mungilmu.
Kaki kursi maupun kaki bangku seakan-akan tongkat untuk menahanmu berdiri.
Dibawah meja makan merupakan tempat favoritmu, meja makan cukup untuk menudungi kepalamu.
Kau menengadah ketas dan melihat lampu-lampu indah, kau takjub dan kagum melihatnya, lalu kau mengulurkan tanganmu untuk menjangkaunya.
Tapi kau tak sanggup!!
Segala sesuatu nampak begitu jauh dan tak terjangkau bagi tangan dan kaki mungilmu yang berusaha untuk menggapainya.
Lalu kau mendengar sebuah suara memanggilmu.
Kau mencari berkeliling dengan tertatih-tatih, tapi kau tidak menemukannya.
Suara itu memanggilmu lagi..
Kau semakin penasaran dan menjejakkan kakimu ke lantai cepat-cepat untuk mencari sumber suara itu. Tangan dan kaki kecilmu berusaha menjaga keseimbangan ketika kau berlari untuk menemukan siapa yang memanggilmu.
Suara yang begitu lembut, suara yang kau tahu berasal dari orang yang mengasihimu. Suara yang sama terdengar memangilmu lagi, kau memandang sekelilingmu sekali lagi..tapi kau tetap tidak menemukan suara itu. Yang kau lihat disekelilingmu hanyalah mainan mobil-mobilanmu yang berserakan, 4 buah kaki kursi, sebuah balon, beberapa buah, krayon dan tempat favoritmu, dibawah meja makan.
Kau berlari dan melongok ke bawah meja, kalau-kalau sumber suara itu berasal dari sana. Dan kau mendengar suara itu sekali lagi, disertai dengan tawa lembut.
"Kemana kau mencari anakku? Lihat aku diatasmu."
Kau pun mendongakkan kepalamu dan melihat sumber suara itu. Ibumu berdiri di hadapanmu dan tersenyum melihatmu. Kau pun tersenyum dan berpikir, "Hei lihat..aku dapat menemukanmu."
Lalu kau mengulurkan tangan mungilmu dan mencoba menggapainya. Mencoba menciumnya, mencoba memegang tangannya. Namun, aduh..tanganmu tak dapat menggapainya.
Tiba-tiba ibumu terasa begitu jauh darimu. Ia menjulang tinggi dan tak dapat kau raih. Kau merasa kecewa dan menangis. Kau menginginkan ibumu, tapi kau tak dapat mencapainya..Ibu terasa begitu jauh.
Dan tiba-tiba, kau merasa tubuhmu terangkat. Ada sepasang tangan yang memegang pinggang kecilmu. Kau melihat ibumu tersenyum dan berkata, "Nah, aku bisa menemukanmu." Kau menggapai dengan tanganmu dan, Hei lihat..sorakmu..Kau bisa memegang pipinya. Ia tertawa ketika tangan-tanganmu memegang pipinya. Bahkan ketika salah satu tanganmu menarik rambutnya. Ia tertawa dan menarik kau mendekat padanya dan mencium pipimu. Akhirnya kau bisa meraih ibumu. Oh..salah.. Akhirnya Ibumu bisa meraihmu dan mendekapmu.
Betapa sering kita merasa Tuhan jauh dan tidak terjangkau bagi tangan-tangan kita. Atau mungkin kita ingin sekali menjangkauNya tapi upss..tanganmu kurang panjang. Kaki-kakimu kurang tinggi untuk dapt menyentuhNya.
Pernahkah kita merasa Tuhan jauh dari kita, kita berpikir dan membayangkan diri kita seperti anak kecil dengan pandangan yang serba terbatas sehingga kita tidak bisa melihat bahwa sesungguhnya kita berada dibawah kakiNya. Bahkan kita ada kurang dari 10cm dari hadapanNya. Pandangan kita sangat terbatas. Tidak seperti PandangnNya. PandanganNya begitu dekat kepada kita, sehingga tangan-tanganNya bisa menjangkau dan menarik kita mendekat kepadaNya.
BagiNya kita begitu dekat, sehingga bunyi nafas kita sekalipun terdengar di telingaNya. Ketika Ia menundukkan kepalaNya, ada kita di dekat kakiNya. Ia tersenyum dan tertawa ketika melihatmu mencari-cariNya, padahal kau ada di dekat kakiNya. Dan akhirnya, ia mengangkat pinggangmu, membawamu naik untuk dapat menciummu. Untuk membiarkanmu memegang pipiNya, untuk membiarkanmu menarik rambutNya. Ia ada dekat sekali denganmu. Yang perlu kau lakukan hanyalah menengadahkan kepalamu, dan Ia akan mengangkatmu ke atas. Ia akan membungkuk dan mengulurkan tanganNya.
Jadi, jika kau merasa begitu jauh dariNya..Ingat kau ada di dekat kakiNya...
by Pondok Renungan
Langganan:
Postingan (Atom)

